Kerukunan Semu di Ruang Organisasi: Ketika Identitas Tidak Menjadi Kebanggaan dan Napas

Oleh: Harken (Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau)

Fenomena dalam organisasi ketika kerukunan sering ditampilkan sebagai wajah utama. Senyum terpampang dalam setiap pertemuan, kebersamaan diabadikan dalam foto, dan kata “solid dan kompak” dengan mudah diucapkan. Namun di balik itu, tidak jarang tersimpan kegamangan yang tak terlihat, hubungan yang renggang, komunikasi yang tidak jujur, dan nilai yang tidak benar-benar disepakati. Kerukunan seperti ini bukanlah kekuatan, melainkan ilusi. Ia tampak utuh, tetapi rapuh. Inilah yang kita sebut sebagai kerukunan semu.

Akar dari kerukunan semu sering kali terletak pada satu hal yang mendasar: identitas organisasi tidak menjadi kebanggaan, apalagi menjadi napas yang menghidupinya.

Identitas organisasi seharusnya lebih dari sekadar nama, logo, atau jargon yang diulang dalam setiap pertemuan dan forum formal. Identitas adalah makna yang menyatukan, arah yang menuntun, dan nilai yang mengikat setiap individu di dalamnya. Identitas adalah alasan mengapa seseorang merasa memiliki, merasa bangga menjadi bagian dari organisasi tersebut

Namun, dalam banyak peristiwa, identitas justru kehilangan maknanya. Identitas hanya hadir dalam dokumen resmi, dibacakan saat pelantikan, atau ditampilkan dalam spanduk kegiatan. Di luar itu, identitas tidak terasa. Tidak hadir dalam cara anggota berbicara, tidak tercermin dalam cara menyelesaikan perbedaan, dan tidak menjadi dasar dalam mengambil keputusan.

Lebih jauh lagi, ada fenomena yang lebih mengkhawatirkan:
identitas organisasi tidak lagi menjadi kebanggaan, bahkan cenderung diabaikan.

Anggota tidak merasa perlu memahami AD/ART, visi dan misi. Nilai-nilai organisasi tidak pernah benar-benar didiskusikan.
Bahkan dalam hal sederhana seperti penulisan nama organisasi atau slogan, kesalahan kerap terjadi dan itu dianggap biasa.

Nama organisasi ditulis berbeda-beda.
Slogan berubah tanpa kesadaran.
Prinsip dasar dikutip keliru tanpa ada yang merasa perlu meluruskan.

Semua itu dianggap sepele.
Padahal, di situlah tanda awal dari hilangnya rasa memiliki.

Bagaimana mungkin sesuatu bisa dibanggakan jika tidak dikenal?
Bagaimana mungkin sesuatu bisa dihidupi jika tidak dipahami?
Bagaimana mungkin sesuatu bisa tumbuh jika tidak dirawat?

Ketika identitas tidak menjadi kebanggaan, organisasi kehilangan energi emosionalnya. Keterlibatan anggota menjadi dangkal. Kehadiran hanya bersifat formal, bukan karena panggilan nilai, tetapi sekadar memenuhi peran.

Dalam kondisi seperti ini, relasi antar anggota mudah dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Kedekatan lebih menentukan daripada prinsip. Kritik dianggap ancaman, dan perbedaan dipandang sebagai gangguan. Dialog yang sehat tergantikan oleh komunikasi yang penuh kehati-hatian, bahkan kepura-puraan.

Kerukunan yang terbentuk pun bukan hasil dari kesamaan nilai, melainkan dari keengganan untuk berkonflik. Masalah tidak diselesaikan, hanya disimpan. Perbedaan tidak dikelola, tetapi ditekan. Semua terlihat tenang, hingga pada satu titik retak itu tak lagi bisa disembunyikan.

Lebih jauh lagi, organisasi yang tidak menjadikan identitas sebagai napas akan kehilangan arah. Keputusan menjadi reaktif, program berjalan tanpa ruh, dan tujuan organisasi perlahan menjadi kabur. Anggota hadir, tetapi tidak benar-benar merasa terikat.

Padahal, organisasi yang kuat justru lahir dari identitas yang dihidupi bersama.

Ketika identitas menjadi kebanggaan, ia akan tumbuh menjadi energi kolektif. Anggota merasa memiliki, merasa terikat, dan merasa bertanggung jawab. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga berkontribusi. Mereka tidak hanya mengikuti, tetapi juga menjaga.

Ketika identitas menjadi napas, ia hadir dalam hal-hal kecil:
dalam cara menyebut nama organisasi dengan benar,
dalam cara menghargai perbedaan,
dalam cara mengambil keputusan yang selaras dengan nilai.

Menghidupkan kembali identitas organisasi bukan sekadar tugas formal, melainkan proses kesadaran. Ia dimulai dari keberanian untuk jujur, mengakui bahwa selama ini identitas mungkin hanya menjadi slogan.

Langkah awalnya sederhana, tetapi sering diabaikan:
mengenali dan memahami identitas organisasi secara utuh.

Bukan sekadar menghafal visi dan misi,
tetapi memaknai setiap kata di dalamnya. Bukan sekadar menuliskan nama organisasi,
tetapi menjaganya dengan konsisten dan benar. Karena dari hal-hal kecil itulah rasa hormat dan kebanggaan tumbuh.

Pemimpin memiliki peran penting dalam menghidupkan identitas ini. Keteladanan menjadi kunci. Jika pemimpin abai terhadap identitas, maka anggota akan menganggapnya tidak penting. Namun jika pemimpin menjadikannya sebagai prinsip hidup, maka identitas akan perlahan menjadi budaya.

Pada akhirnya, kerukunan sejati tidak lahir dari slogan atau keseragaman semu. Ia tumbuh dari kesamaan nilai yang benar-benar dipahami, dihargai, dan dijalankan bersama.

Jika identitas terus diabaikan, maka organisasi akan tetap terlihat rukun, tetapi sebenarnya rapuh. Namun jika identitas dijadikan kebanggaan dan napas, maka organisasi tidak hanya akan kuat secara struktur, tetapi juga kokoh secara jiwa.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam:
apakah kita benar-benar bangga dengan identitas organisasi kita atau sekadar menggunakannya tanpa pernah menghidupinya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *